Friday, 31 October 2014

Jasad, Ruh Dan Nyawa



Jasad, Ruh Dan Nyawa


Posted: 27 Juni 2010 in Renungan

Tag:, ,
 
 
Bissmillahirrohmanirrohim..


Jasad


Akhi / Ukhti sekalian..inilah suatu perkara yang sebahagian kamu
selalu lalai daripadanya. Ya..alangkah elok rupamu ya akhi wa uhkti,
akan tetapi ingatlah..yang wujud lagi tampak daripadamu itu hanyalah
jasadmu sahaja. Sedang, kelak jika engkau mati..binasalah sekalian
segala keelokan rupamu kala itu. Perihal bukti agar terlebih baik
bagimu, maka hendaklah engkau gali kubur daripada si fulan itu. Adakah
si fulan itu rupanya masih seelok yang engkau saksikan dahulu?? Sekali –
kali tidak, bahkan yang engkau saksikan kala itu adalah tumpukan tulang
– tulang yang mulai rapuh dan tiada wujud selayak manusia atau selain
daripada itu.


Dan ketahuilah olehmu, bahwasanya daripada jasadmu dengan segala
geranan perkara yang lahir dariapdannya itu adalah ayat – ayat ALLAH
 jua. Bermula engkau dalam kandungan dan  engkau bayi, hingga bisa
berdiri, lalu kemudian belajar berbicara, berjalan hingga remaja dan
kemudian dewasa dan tua. Yang sedemikian itu adalah perihal jasadmu
dengan perubahan yang bertahap – tahap yang ALLAH jadikan daripadamu
sampai engkau mati kemudiannya. Sebelum hari berbangkit (kiamat) maka
jasad itu menetap didunia.


Sedang wujud apa – apa yang berada daripada jasad (tangan, kaki,
tubuh, kepala dan lain sebagainya) (duniawi) adalah hati, otak dan
secara  medis engkau dapa melihat wujud daripada hati dan otak itu.


Ruh


Melalui jasad ALLAH titiskan ruh didalamnya, ia tiada tampak oleh
mata akan tetapi bisa engkau rasakan. Karena ia adalah diri didalam
dirimu, engkau tiada mengetahui sampai ALLAH memberitahukannya atas
kamu. Maka, kiranya jika orang non muslim bertanya padamu perihal ALLAH.
“mengapakah kalian menyembah yang tiada berwujud??. Katakanlah..”adakah
engkau percaya dengan ruh daripada jasadmu?? Ia akan menjawab “ya..”,
maka katakanlah lagi..”adakah engkau melihatnya??”, ia akan menjawab
“tidak”, dan katakanlah “sesungguhnya kami mempercayai yang ada namun
engkau mengira ia tiada, layaknya engkau yang mempercayai gerangan
ruhmu, maka demikian pulalah perkaranya atas kami..ALLAH itu berada di
langit dalam perbendahraan-Nya yang tersembunyi, sedang IaMaha Tinggi
lagi Maha Halus dari atas apa – apa yang engkau sangka – sangkakan!!”.


Akhi – ukhti sekaliannya, inilah gerangan ruh sedang sebelum hari
berbangkit (kiamat) kelak, jika seorang manusia itu mati maka ruhnya
akan kembali kepada genggaman ALLAH Azza wa Jalla sedang jasadnya masih
dihimpit bumi.


Sedang wujud daripada apa – apa pada ruhmu itu adalah ia seumpama
kamu jua dan adalah isi daripada jasadmu, jika dalam jasad adanya adalah
hati dan otak, maka dalam ruh adalah perasaan dan pikiran.


Nyawa


Hanya ALLAH yang mengetahui wujudnya, akan tetapi ialah yang mengikat
antara jasad dan ruhmu hingga kemudian dikatakanlah engkau hidup sedang
jika ia (nyawa) itu dilepas daripadamu, niscaya disebutlah ia mati.


Mukadimah


Akhi – ukhti sekaliannya, maka kenalilah dirimu niscaya engkau akan
mengenali Tuhanmu. Pepatah tua berbunyi “awal mengenal suatu agama
adalah mengenal Tuhan, Mengenal Tuhan adalah mengenal ALLAH, sedang
mengenal ALLAH adalah mengenal diri”. Sesungguhnya Tuhan itu adalah
tiada sedang yang ada hanyalah ALLAH semata, jika Engkau memikirkan??


Jika terdapat perkatan yang salah pada artikel ini, atas kamu
sekalian  aku memohon maaf sedang kepada ALLAH aku memohon ampun..
Wallahu A’lam Bish Showab ^_Jasad, Ruh Dan Nyawa

Kembalilah Pada ALLAH Walau Apapun Perkaranya



Kembalilah Pada ALLAH Walau Apapun Perkaranya


Posted: 17 Juni 2010 in Renungan

Tag:,
 
 
Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingatlah)
ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi
lalu dia termasuk orangorang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan
oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak
termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap
tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami
lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan
Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus
dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena
itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang
tertentu. (QS Ash Shaafaat:139-148)

Ayat-ayat ini mengisahkan saat Nabi Yunus a.s. meninggalkan umatnya.

Kemudian beliau naik ke sebuah kapal yang penuh dengan muatan. Karena

sesuatu hal yang mengancam keselamatan kapal, maka diputuskan untuk

mengurangi penumpang dengan cara melempar sebagian penumpang ke laut.

Untuk menentukan siapa yang akan dilempar ke laut, maka diadakan undian
dan Nabi Yunus a.s. kalah dan harus dilempar ke laut. Kemalangan tidak
sampai di sana, di laut beliau ditelan oleh seekor ikan yang besar.
Beliau berdoa di dalam perut ikan sampai pertolongan Allah datang.
Beliau dilemparkan ke suatu daerah yang tandus dan dalam keadaan sakit.

Setelah mengalami berbagai kemalangan dan kesulitan tersebut, akhirnya

pertolongan Allah SWT datang. Mulai ditumbuhkannya pohon labu dan
diterima oleh umat yang beriman. Suatu kenikmatan yang diberikan Allah
SWT kepada orang-orang yang bershabar atas segala ujian yang
dihadapinya.

Oleh karena itu hendaknya kita semua selalu berpikir positif. Selalu
yakin bahwa ada hikmah dari setiap kejadian atau kondisi yang kita alami
saat ini. Suatu kesulitan bukan berati kita akan sulit selamanya. Ada
kebaikan dan kemudahan setelahnya, insya Allah.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya

sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS.Alam Nasyrah:5-6)

Dan belum tentu pula kesulitan yang kita hadapi merupakan gambaran dan

kehinaan kita, Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata:

“Tuhanku menghinakanku” Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim. (QS. Al fajr:16-17)

Kesempitan rezeki bukan indikasi yang menunjukan kehinaan dan
kesia-siaan. Apapun kejadian yang menimpa kita, apabila hati kita penuh
dengan iman, maka kita insya Allah akan selalu berhubungan dengan Allah
SWT dan mengerti apa yang ada di sana. Harga diri seseorang dalam
timbangan Allah SWT bukan ditentukan oleh nilai-nilai lahiriah.

Kesulitan dan kegagalan bukanlah diri kita. “kesalahan kita” dan “kita” adalah

berbeda. Kesalahan adalah kesalahan, diri kita adalah diri kita.
Maksudnya jika kita melakukan kesalahan, bukan berarti diri kita orang
yang selalu salah, kita hanya membuat kesalahan saja, yang masih bisa
kita perbaiki. Jangan putus asa, jangan berhenti, teruslah maju.

Kembalilah Pada ALLAH Walau Apapun Perkaranya

Wednesday, 29 October 2014

Meraih Sukses



Posted: 29 Juni 2010 in Manajemen Qalbu By Aa Gym

Tag:
 
 
Hikam :

“Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu kebahagiaan
negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari kenikmatan
duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain. Sebagai mana Allah telah
berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan dimuka bumi,
sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(QS. Al-Qashash: 77)


“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari orang mukmin yang lemah.” (Al-Hadist)


Kita diciptakan oleh Allah bukan untuk menjadi pecundang, tapi kita
telah disiapkan oleh Allah, berpotensi untuk sukses. Tidak hanya pada
ukuran dunia tapi juga untuk ukuran akhirat.


Rasulullah tidak hanya di akhirat tapi didunia juga sukses. Beliau
tidak mau menjadi beban bagi orang lain. Usia 12 tahun sudah melakukan
perjalanan untuk berdagang dan pada usia 25 tahun telah menjadi seorang
pemuda yang bermutu akhlaknya dan terpercaya pribadinya.


Rasul merupakan pemuda yang sukses karena, pada saat memberikan mas
kawin atau mahar pada Siti Khodijah, Rasul memberikan sebanyak 20 ekor
unta muda yang artinya pada saat itu telah menjadi seorang pengusaha
kaya raya yang sangat sukses.


Untuk menjadi pribadi yang sukses maka kita harus “tenang” karena
keyakinan akan adanya kekuasaan Allah. Lalu, “terencana” dalam melakukan
sesuatu, baru “tawakal”. Kemudian “terampil” dalam berkerja; “tertib”
dalam kehidupan; “tekun” dan “istiqamah” dalam mengatasi kejemuan;
“tegar” dan sabar dalam menerima musibah dari berbagai macam kejadian;
“tawadhu” atau rendah hati, karena kesombongan merupakan sarana yang
paling efektif untuk menjatuhkan martabat kita.


Kesuksesan sejati adalah ketika kita berhasil meyakini semua ini
adalah milik Allah, yang membuat kita menjadi tawadhu dan rendah hati,
terus-menerus membersihkan hati dan terus meningkatkan kemampuan untuk
mempersembahkan yang terbaik, yang terlihat dari kemuliaan akhlak dan
sempurnanya amal dengan hati yang ikhlas. Insya Allah kita akan
mendapatkan kesuksesan di dunia dan akhirat.

Meraih Sukses

Sebaik-baik Manusia

 
 
Ternyata, derajat kemuliaan seseorang dapat dilihat dari sejauh mana
dirinya punya nilai mamfaat bagi orang lain. Rasulullah SAW bersabda,
“Khairunnas anfa’uhum linnas”, “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah
yang paling banyak mamfaatnya bagi orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Hadits ini seakan-akan mengatakan bahwa jikalau ingin mengukur sejauh
mana derajat kemuliaan akhlak kita, maka ukurlah sejauh mana nilai
mamfaat diri ini? Istilah Emha Ainun Nadjib-nya, tanyakanlah pada diri
ini apakah kita ini manusia wajib, sunat, mubah, makruh, atau malah
manusia haram?


Apa itu manusia wajib? Manusia wajib ditandai jikalau keberadannya
sangat dirindukan, sangat bermamfat, perilakunya membuat hati orang di
sekitarnya tercuri. Tanda-tanda yang nampak dari seorang manusia wajib,
diantaranya dia seorang pemalu, jarang mengganggu orang lain sehingga
orang lain merasa aman darinya. Perilaku kesehariannya lebih banyak
kebaikannya. Ucapannya senantiasa terpelihara, ia hemat betul
kata-katanya, sehingga lebih banyak berbuat daripada berbicara. Sedikit
kesalahannya, tidak suka mencampuri yang bukan urusannya, dan sangat
nikmat kalau berbuat kebaikan. Hari-harinya tidak lepas dari menjaga
silaturahmi, sikapnya penuh wibawa, penyabar, selalu berterima kasih,
penyantun, lemah lembut, bisa menahan dan mengendalikan diri, serta
penuh kasih sayang.


Bukan kebiasaan bagi yang akhlaknya baik itu perilaku melaknat,
memaki-maki, memfitnah, menggunjing, bersikap tergesa-gesa, dengki,
bakhil, ataupun menghasut. Justru ia selalu berwajah cerah, ramah tamah,
mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan marahnya pun karena
Allah SWT, subhanallaah, demikian indah hidupnya.


Karenanya, siapapun di dekatnya pastilah akan tercuri hatinya.
Kata-katanya akan senantiasa terngiang-ngiang. Keramahannya pun
benar-benar menjadi penyejuk bagi hati yang sedang membara. Jikalau saja
orang yang berakhlak mulia ini tidak ada, maka siapapun akan merasa
kehilangan, akan terasa ada sesuatu yang kosong di rongga qolbu ini.
Orang yang wajib, adanya pasti penuh mamfaat. Begitulah kurang lebih
perwujudan akhlak yang baik, dan ternyata ia hanya akan lahir dari
semburat kepribadian yang baik pula.


Orang yang sunah, keberadaannya bermamfaat, tetapi kalau pun tidak
ada tidak tercuri hati kita. Tidak ada rongga kosong akibat rasa
kehilangan. Hal ini terjadi mungkin karena kedalaman dan ketulusan
amalnya belum dari lubuk hati yang paling dalam. Karena hati akan
tersentuh oleh hati lagi. Seperti halnya kalau kita berjumpa dengan
orang yang berhati tulus, perilakunya benar-benar akan meresap masuk ke
rongga qolbu siapapun.


Orang yang mubah, ada tidak adanya tidak berpengaruh. Di kantor kerja
atau bolos sama saja. Seorang pemuda yang ketika ada di rumah keadaan
menjadi berantakan, dan kalau tidak adapun tetap berantakan. Inilah
pemuda yang mubah. Ada dan tiadanya tidak membawa mamfaat, tidak juga
membawa mudharat.


Adapun orang yang makruh, keberadannya justru membawa mudharat. Kalau
dia tidak ada, tidak berpengaruh. Artinya kalau dia datang ke suatu
tempat maka orang merasa bosan atau tidak senang. Misalnya, ada seorang
ayah sebelum pulang dari kantor suasana rumah sangat tenang, tetapi
ketika klakson dibunyikan tanda sang ayah sudah datang, anak-anak malah
lari ke tetangga, ibu cemas, dan pembantu pun sangat gelisah. Inilah
seorang ayah yang keberadaannya menimbulkan masalah.


Lain lagi dengan orang bertipe haram, keberadaannya malah dianggap
menjadi musibah, sedangkan ketiadaannya justru disyukuri. Jika dia pergi
ke kantor, perlengkapan kantor pada hilang, maka ketika orang ini
dipecat semua karyawan yang ada malah mensyukurinya.


Masya Allah, tidak ada salahnya kita merenung sejenak, tanyakan pada
diri ini apakah kita ini anak yang menguntungkan orang tua atau hanya
jadi benalu saja? Masyarakat merasa mendapat mamfaat tidak dengan
kehadiran kita? Adanya kita di masyarakat sebagai manusia apa, wajib,
sunah, mubah, makruh, atau haram? Kenapa tiap kita masuk ruangan
teman-teman malah pada menjauhi, apakah karena perilaku sombong kita?


Kepada ibu-ibu, hendaknya tanyakan pada diri masing-masing, apakah
anak-anak kita sudah merasa bangga punya ibu seperti kita? Punya mamfaat
tidak kita ini? Bagi ayah cobalah mengukur diri, saya ini seorang ayah
atau gladiator? Saya ini seorang pejabat atau seorang penjahat? Kepada
para mubaligh, harus bertanya, benarkah kita menyampaikan kebenaran atau
hanya mencari penghargaan dan popularitas saja?

Sebaik-baik Manusia

Menggapai Bening Hati

 
 
Keberuntungan memiliki hati yang bersih, sepatutnya membuat diri
kita berpikir keras setiap hari menjadikan kebeningan hati ini menjadi
aset utama untuk menggapai kesuksesan dunia dan akhirat kita.
Subhanallaah, betapa kemudahan dan keindahan hidup akan senantiasa
meliputi diri orang yang berhati bening ini. Karena itu mulai detik ini
bulatkanlah tekad untuk bisa menggapainya, susun pula program nyata
untuk mencapainya. Diantara program yang bisa kita lakukan untuk
menggapai hidup indah dan prestatif dengan bening hati adalah :


1. Ilmu

Carilah terus ilmu tentang hati, keutamaan kebeningan hati, kerugian
kebusukan hati, bagaimana perilaku dan tabiat hati, serta bagaimana
untuk mensucikannya. Diantara ikhtiar yang bisa kita lakukan adalah
dengan cara mendatangi majelis taklim, membeli buku-buku yang mengkaji
tentang kebeningan hati, mendengarkan ceramah-ceramah berkaitan dengan
ilmu hati, baik dari kaset maupun langsung dari nara sumbernya. Dan juga
dengan cara berguru langsung kepada orang yang sudah memahami ilmu hati
ini dengan benar dan ia mempraktekannya dalam kehidupan sehari-harinya.
Harap dimaklumi, ilmu hati yang disampaikan oleh orang yang sudah
menjalaninya akan memiliki kekuatan ruhiah besar dalam mempengaruhi
orang yang menuntut ilmu kepadanya. Oleh karenanya, carilah ulama yang
dengan gigih mengamalkan ilmu hati ini.


2. Riyadhah atau Melatih Diri

Seperti kata pepatah, “alah bisa karena biasa”. Seseorang mampu
melakukan sesuatu dengan optimal salah satunya karena terlatih atau
terbiasa melakukannya. Begitu pula upaya dalam membersihkan hati ini,
ternyata akan mampu dilakukan dengan optimal jikalau kita terus-menerus
melakukan riyadhah (latihan). Adapun bentuk latihan diri yang dapat kita
lakukan untuk menggapai bening hati ini adalah


Menilai kekurangan atau keburukan diri.

Patut diketahui bahwa bagaimana mungkin kita akan mengubah diri kalau
kita tidak tahu apa-apa yang harus kita ubah, bagaimana mungkin kita
memperbaiki diri kalau kita tidak tahu apa yang harus diperbaiki. Maka
hal pertama yang harus kita lakukan adalah dengan bersungguh-sungguh
untuk belajar jujur mengenal diri sendiri, dengan cara


Memiliki waktu khusus untuk tafakur.

Setiap ba’da shalat kita harus mulai berpikir; saya ini sombong atau
tidak? Apakah saya ini riya atau tidak? Apakah saya ini orangnya takabur
atau tidak? Apakah saya ini pendengki atau bukan? Belajarlah sekuat
tenaga untuk mengetahui diri ini sebenarnya. Kalau perlu buat catatan
khusus tentang kekurangan-kekurangan diri kita, (tentu saja tidak perlu
kita beberkan pada orang lain). Ketahuilah bahwa kejujuran pada diri ini
merupakan modal yang teramat penting sebagai langkah awal kita untuk
memperbaiki diri kita ini


Memiliki partner.

Kawan sejati yang memiliki komitmen untuk saling mengkoreksi semata-mata
untuk kebaikan bersama yang memiliki komitmen untuk saling mewangikan,
mengharumkan, memajukan, dan diantaranya menjadi cermin bagi satu yang
lainnya. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Tentu saja dengan niat dan cara
yang benar, jangan sampai malah saling membeberkan aib yang akhirnya
terjerumus pada fitnah. Partner ini bisa istri, suami, adik, kakak, atau
kawan-kawan lain yang memiliki tekad yang sama untuk mensucikan diri.
Buatlah prosedur yang baik, jadwal berkala, sehingga selain mendapatkan
masukan yang berharga tentang diri ini dari partner kita, kita juga bisa
menikmati proses ini secara wajar.


Manfaatkan orang yang tidak menyukai kita.

Mengapa? Tiada lain karena orang yang membenci kita ternyata memiliki
kesungguhan yang lebih dibanding orang yang lain dalam menilai,
memperhatikan, mengamati, khususnya dalam hal kekurangan diri. Hadapi
mereka dengan kepala dingin, tenang, tanpa sikap yang berlebihan.
Anggaplah mereka sebagai aset karunia Allah yang perlu kita optimalkan
keberadannya. Karenanya, jadikan apapun yang mereka katakan, apapun yang
mereka lakukan, menjadi bahan perenungan, bahan untuk ditafakuri, bahan
untuk dimaafkan, dan bahan untuk berlapang hati dengan membalasnya
justru oleh aneka kebaikan. Sungguh tidak pernah rugi orang lain berbuat
jelek kepada diri kita. Kerugian adalah ketika kita berbuat kejelekkan
kepada orang lan.


Tafakuri kejadian yang ada di sekitar kita.

Kejadian di negara, tingkah polah para pengelola negara, akhlak
pipmpinan negara, atau tokoh apapun dan siapa pun di negeri ini. Begitu
banyak yang dapat kita pelajari dan tafakuri dari mereka, baik dalam hal
kebaikan ataupun kejelekkan/kesalahan (tentu untuk kita hindari
kejelekkan/kesalahan serupa). Selain itu, dari orang-orang yang ada di
sekitar kita, seperti teman, tetangga, atau tamu, yang mereka itu
merupakan bahan untuk ditafakuri. Mana yang menyentuh hati, kita menaruh
rasa hormat, kagum, kepada mereka. Mana yang akan melukai hati, mendera
perasaan, mencabik qalbu, karena itu juga bisa jadi bahan contoh, bahan
perhatian, lalu tanyalah pada diri kita, mirip yang mana? Tidak usah
kita mencemooh orang lain, tapi tafakuri perilaku orang lain tersebut
dan cocokkan dengan keadaan kita. Ubahlah sesuatu yang dianggap melukai,
seperti yang kita rasakan, kepada sesuatu yang menyenangkan. Sesuatu
yang dianggap mengagumkan, kepada perilaku kita spereti yang kita kagumi
tersebut. Mudah-mudahan dengan riyadhah tahap awal ini kita mulai
mengenal, siapa sebenarnya diri kita?


Menggapai Bening Hati

Karunia Hidayah

 
 
Siapapun di dunia ini hanya akan menjaga dengan sungguh-sungguh
sesuatu yang dianggapnya berharga dan membuang sesuatu yang dianggapnya
tidak berharga. Semakin bernilai dan semakin berharga suatu benda, maka
akan lebih habis-habisan pula dijaganya.


Ada yang sibuk menjaga hartanya karena dia menganggap hartanyalah
yang paling bernilai. Ada yang sibuk menjaga wajahnya agar awet muda,
karena awet muda itulah yang dianggapnya paling bernilai. Ada juga yang
mati-matian menjaga kedudukan dan jabatannya, karena kedudukan dan
jabatan itulah yang dianggap membuatnya berharga.


Tapi ada pula orang yang mati-matian menjaga hidayah dan taufik
dari-Nya karena dia yakin bahwa hidup tidak akan selamat mencapai
akhirat kecuali dengan hidayah dan taufik dari ALLOH yang Mahaagung.
Inilah sebenarnya harta benda paling mahal yang perlu kita jaga
mati-matian. Betapa nikmat iman yang bersemayam di dalam kalbu melampaui
apapun yang bernilai di dunia ini.


Karenanya, sudah sepantasnya dalam mencari apapun di dunia ini, kita
tetap dalam rambu-rambu supaya hidayah itu tidak hilang. Misal, ketika
mencari uang untuk nafkah keluarga, kita sibuk dengan berkuah peluh
bermandi keringat mencarinya, tapi tetap berupaya dengan sekuat tenaga
agar dalam mencari uang ini hidayah sebagai sebuah barang berharga tidak
hilang dan taufik tidak sampai sirna.


Begitupula ketika menuntut ilmu, kita kejar ilmu setinggi-tingginya
tetapi tetap dalam rambu-rambu supaya hidayah tidak sampai sirna. Bahkan
seharusnya acara mencari nafkah, mencari ilmu, atau mencari dunia bisa
lebih mendekatkan dengan sumber hidayah dari ALLOH SWT.


Ada sebuah doa yang ALLOH SWT ajarkan kepada kita melalui firman-Nya,
“Robbanaa, laa tuziquluu banaa ba’da ijhhadaitana wahablana
milladunkarahmatan innaka antal wahhaab…” (Q.S. Ali Imran [3]: 8). (Ya
Tuhan kami, jangan jadikan hati ini condong kepada kesesatan sesudah
engkau beri petunjuk, dan karuniakan kepada kami rahmat dari sisimu,
sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Karunia).


Demikianlah ALLOH Azza wa Jalla, Dzat Maha Pemberi Karunia Hidayah,
mengajarkan kepada kita agar senantiasa bermohon kepada-Nya sehingga
selalu tertuntun dengan cahaya hidayah dari-Nya. Tidak bisa tidak, doa
inilah yang harus senantiasa kita panjatkan di malam-malam hening kita,
di setiap getar-getar doa yang meluncur dari bibir kita.  ***


Suatu waktu ada seorang wanita yang belum beberapa lama masuk Islam
(muallaf). Dan ternyata keluarganya tidak bisa menerima kenyataan ini,
sehingga ibunya mengusirnya dari rumah. Kejadiannya ketika menjelang jam
lima sore telepon berdering, suara diujung sana bicara dengan
terbata-bata, “Aa, aa tolong a tolong…!” Belum selesai bicara hubungan
telepon terputus. Dari nadanya kelihatan darurat, sehingga jelas-jelas
si penelpon sedang dalam kondisi membutuhkan bantuan. Sayangnya tidak
diketahui dimana menelponnya? Keadaannya bagaimana? Cuma yang diketahui
pasti adalah ALLOH Maha Melihat, Maha Menyaksikan segala kejadian, dan
Mahakokoh dalam melindungi siapapun. Tidak akan terjadi musibah,
“illabiidznillah” tanpa ijin ALLOH, dan tidak akan teraniaya kecuali
dengan ijin ALLOH pula.


Usai hubungan telepon terputus, saya berpikir apa yang bisa
dilakukan!? Karena yang terbayang di benak saat itu adalah justru si
anak dianiaya, teleponnya direbut atau kabelnya diputuskan. Terbayang
pula andai si anak ini dipaksa kembali ke agama semula oleh orang tuanya
atau minimal dianiaya. Tapi sejenak kemudian ingat pula akan
Kemahakuasaan ALLOH bahwa hanya dengan karunia-Nya saja hidayah bisa
sampai kepada si anak itu. Betapapun orang memaksa untuk melepas hidayah
keyakinan di jalan-Nya, tapi kalau ALLOH Azza wa Jalla, Dzat yang
Mahakuasa telah menghunjamkan dalam-dalam hidayah itu di kalbunya, kita
lihat bagaimana Bilal bin Rabbah, sahabat Rasulullah SAW yang mulia,
dijemur diterik matahari, dibawahnya beralas pasir membara, badan pun
dihimpit batu yang berat, tapi bibirnya yang mulia tetap mengucapkan,
“ALLOH, ALLOH, ALLOH”.


Demikianlah jikalau ALLOH telah menghunjamkan karunia hidayahnya,
tidak ada seorangpun yang bisa melepaskannya. Begitupun dengan si anak
dalam kejadian ini, setelah teleponnya diputus oleh ibunya, ternyata
benar ia dianiaya, dijambak, dan dirobek-robek jilbabnya. Hanya kemudian
dengan ijin ALLOH, dia dapat kembali menutup auratnya dan dengan hati
pilu si anak pun ikut bersama bibinya. Hanya ALLOH-lah yang melepaskan
dari setiap kesempitan.


Mudah-mudahan kejadian diatas dapat menambah keyakinan akan kokohnya
perlindungan ALLOH Azza wa Jalla. Betapapun tidak ada yang menolong,
yakinlah bahwa ALLOH-lah satu-satunya penolong. Begitupun ketika ada
yang menganiaya, maka si penganiaya pun adalah makhluk dalam genggaman
ALLOH. Tidak ada satupun ayunan dan pukulan tangan, atau bahkan
tendangan kakinya, kecuali tenaganya karunia dari ALLOH. Tidak ada
satupun darah yang menetes, kecuali dengan ijin ALLOH.


Karenanya mudah-mudahan saja apa yang menimpa si anak dalam peristiwa
diatas adalah salah satu cara bagaimana ALLOH menanamkan keyakinan
kepadanya. Karenanya walaupun tidak ada yang menolong, yakinlah bahwa
ALLOH-lah yang Mahakuasa memberikan pertolongan. Memang, terkadang kita
ditingkatkan keyakinan, dinaikan peringkat kedudukan disisi ALLOH, salah
satunya dengan diuji dengan bala dan kesempitan terlebih dulu.  ***


ALLOH SWT dalam hal ini berfirman, “Dan orang yang dipimpin ALLOH,
maka tiadalah orang yang akan menyesatkannya” (Q.S. Az Zumar [39]:37).


“Dan siapa yang disesatkan oleh ALLOH, maka tidak ada yang dapat menujukinya” (Q.S. Ar Ra’du [13]:33).


“Siapa yang diberi petunjuk (hidayah) oleh ALLOH maka ialah yang
mendapat petunjuk hidayah, dan siapa yang disesatkan oleh ALLOH, maka
tidak akan engkau dapatkan pelindung atau pemimpin untuknya” (Q.S. .

“Sesungguhnya ALLOH membiarkan sesat siapa yang dikehendaki-Nya dan
dipimpin-Nya siapa yang dikehendaki-Nya.” (Q.S. Al Fathir [35]: 8).


Imam Ibnu Athoillah dalam kitabnya yang terkenal Al Hikam memaparkan, “Nur

(cahaya-cahaya) iman, keyakinan, dan zikir adalah kendaraan yang dapat
mengantarkan hati manusia ke hadirat ALLOH serta menerima segala rahasia
daripada-Nya.


Nur (cahaya terang) itu sebagai tentara yang membantu hati,
sebagaimana gelap itu tentara yang membantu hawa nafsu. Maka apabila
ALLOH akan menolong seorang hamba-Nya, dibantu dengan tentara nur Illahi
dan dihentikan bantuan kegelapan dan kepalsuan”


Nur cahaya terang berupa tauhiid, iman dan keyakinan itu sebagai
tentara pembela pembantu hati, sebaliknya kegelapan, syirik, dan ragu
itu sebagai tentara pembantu hawa nafsu, sedang perang yang terjadi
antara keduanya tidak kunjung berhenti, dan selalu menang dan kalah.


Lebih lanjut beliau berujar, “Nur itulah yang menerangi (membuka) dan
bashirah (matahati) itulah yang menentukan hukum, dan hati yang
melaksanakan atau meninggalkan nur itulah yang menerangi baik dan buruk,
lalu dengan matahatinya ditetapkan hukum, dan setelah itu maka
matahatinya yang melaksanakan atau menggagalkannya.” Semoga ALLOH Azza
wa Jalla mengaruniakan kepada kita penuntun yang membawa cahaya hidayah
sehingga menjadi terang jalan hidup ini, subhanallah.



Karunia Hidayah

Nikmati Proses

 
 
Sebenarnya yang harus kita nikmati dalam hidup ini adalah
proses. Mengapa? Karena yang bernilai dalam hidup ini ternyata adalah
proses dan bukan hasil. Kalau hasil itu ALLOH yang menetapkan, tapi bagi
kita punya kewajiban untuk menikmati dua perkara yang dalam aktivitas
sehari-hari harus kita jaga, yaitu selalu menjaga setiap niat dari
apapun yang kita lakukan dan selalu berusaha menyempurnakan ikhtiar yang
dilakukan, selebihnya terserah ALLOH SWT.


Seperti para mujahidin yang berjuang membela bangsa dan agamanya,
sebetulnya bukan kemenangan yang terpenting bagi mereka, karena
menang-kalah itu akan selalu dipergilirkan kepada siapapun. Tapi yang
paling penting baginya adalah bagaimana selama berjuang itu niatnya
benar karena ALLOH dan selama berjuang itu akhlaknya juga tetap terjaga.
Tidak akan rugi orang yang mampu seperti ini, sebab ketika dapat
mengalahkan lawan berarti dapat pahala, kalaupun terbunuh berarti bisa
jadi syuhada.


Ketika jualan dalam rangka mencari nafkah untuk keluarga, maka
masalah yang terpenting bagi kita bukanlah uang dari jualan itu, karena
uang itu ada jalurnya, ada rizkinya dari ALLOH dan semua pasti
mendapatkannya. Karena kalau kita mengukur kesuksesan itu dari untung
yang didapat, maka akan gampang sekali bagi ALLOH untuk memusnahkan
untung yang didapat hanya dalam waktu sekejap. Dibuat musibah
menimpanya, dikenai bencana, hingga akhirnya semua untung yang dicari
berpuluh-puluh tahun bisa sirna seketika.


Walhasil yang terpenting dari bisnis dan ikhtiar yang dilakukan
adalah prosesnya. Misal, bagaimana selama berjualan itu kita selalu
menjaga niat agar tidak pernah ada satu miligram pun hak orang lain yang
terambil oleh kita, bagaimana ketika berjualan itu kita tampil penuh
keramahan dan penuh kemuliaan akhlak, bagaimana ketika sedang bisnis
benar-benar dijaga kejujuran kita, tepat waktu, janji-janji kita penuhi.


Dan keuntungan bagi kita ketika sedang berproses mencari nafkah
adalah dengan sangat menjaga nilai-nilai perilaku kita. Perkara uang
sebenarya tidak usah terlalu dipikirkan, karena ALLOH Mahatahu kebutuhan
kita lebih tahu dari kita sendiri. Kita sama sekali tidak akan
terangkat oleh keuntungan yang kita dapatkan, tapi kita akan terangkat
oleh proses mulia yang kita jalani.


Ini perlu dicamkan baik-baik bagi siap pun yang sedang bisnis bahwa
yang termahal dari kita adalah nilai-nilai yang selalu kita jaga dalam
proses. Termasuk ketika kuliah bagi para pelajar, kalau kuliah hanya
menikmati hasil ataupun hanya ingin gelar, bagaimana kalau meninggal
sebelum diwisuda? Apalagi kita tidak tahu kapan akan meninggal.
Karenanya yang paling penting dari perkuliahan, tanya dulu pada diri,
mau apa dengan kuliah ini? Kalau hanya untuk mencari isi perut, kata
Imam Ali, “Orang yang pikirannya hanya pada isi perut, maka derajat dia
tidak akan jauh beda dengan yang keluar dari perutnya”. Kalau hanya
ingin cari uang, hanya tok uang, maka asal tahu saja penjahat juga
pikirannya hanya uang.


Bagi kita kuliah adalah suatu ikhtiar agar nilai kemanfaatan hidup
kita meningkat. Kita menuntut ilmu supaya tambah luas ilmu hingga
akhirnya hidup kita bisa lebih meningkat manfaatnya. Kita tingkatkan
kemampuan salah satu tujuannya adalah agar dapat meningkatkan kemampuan
orang lain. Kita cari nafkah sebanyak mungkin supaya bisa
mensejahterakan orang lain.


Dalam mencari rizki ada dua perkara yang perlu selalu kita jaga,
ketika sedang mencari kita sangat jaga nilai-nilainya, dan ketika dapat
kita distribusikan sekuat-kuatnya. Inilah yang sangat penting. Dalam
perkuliahan, niat kita mau apa nih? Kalau mau sekolah, mau kuliah, mau
kursus, selalu tanyakan mau apa nih? Karena belum tentu kita masih hidup
ketika diwisuda, karena belum tentu kita masih hidup ketika kursus
selesai.


Ah, Sahabat. Kalau kita selama kuliah, selama sekolah, selama kursus
kita jaga sekuat-kuatnya mutu kehormatan, nilai kejujuran, etika, dan
tidak mau nyontek lalu kita meninggal sebelum diwisuda? Tidak ada
masalah, karena apa yang kita lakukan sudah jadi amal kebaikan.
Karenanya jangan terlalu terpukau dengan hasil.


Saat melamar seseorang, kita harus siap menerima kenyataan bahwa yang
dilamar itu belum tentu jodoh kita. Persoalan kita sudah datang ke
calon mertua, sudah bicara baik-baik, sudah menentukan tanggal,
tiba-tiba menjelang pernikahan ternyata ia mengundurkan diri atau akan
menikah dengan yang lain. Sakit hati sih wajar dan manusiawi, tapi ingat
bahwa kita tidak pernah rugi kalau niatnya sudah baik, caranya sudah
benar, kalaupun tidak jadi nikah dengan dia. Siapa tahu ALLOH telah
menyiapkan kandidat lain yang lebih cocok.


Atau sudah daftar mau pergi haji, sudah dipotret, sudah manasik, dan
sudah siap untuk berangkat, tiba-tiba kita menderita sakit sehingga
batal untuk berangkat. Apakah ini suatu kerugian? Belum tentu! Siapa
tahu ini merupakan nikmat dan pertolongan dari ALLOH, karena kalau
berangkat haji belum tentu mabrur, mungkin ALLOH tahu kapasitas keimanan
dan kapasitas keilmuan kita.


Oleh sebab itu, sekali lagi jangan terpukau oleh hasil, karena hasil
yang bagus menurut kita belum tentu bagus menurut perhitungan ALLOH.
Kalau misalnya kualifikasi mental kita hanya uang 50 juta yang mampu
kita kelola. Suatu saat ALLOH memberikan untung satu milyar, nah untung
ini justru bisa jadi musibah buat kita. Karena setiap datangnya rizki
akan efektif kalau iman kitanya bagus dan kalau ilmu kitanya bagus.
Kalau tidak, datangnya uang, datangnya gelar, datangnya pangkat,
datangnya kedudukan, yang tidak dibarengi kualitas pribadi kita yang
bermutu sama dengan datangnya musibah. Ada orang yang hina gara-gara dia
punya kedudukan, karena kedudukannya tidak dibarengi dengan kemampuan
mental yang bagus, jadi petantang-petenteng, jadi sombong, jadi sok
tahu, maka dia jadi nista dan hina karena kedudukannya.


Ada orang yang terjerumus, bergelimang maksiat gara-gara dapat
untung. Hal ini karena ketika belum dapat untung akan susah ke tempat
maksiat karena uangnya juga tidak ada, tapi ketika punya untung sehingga
uang melimpah-ruah tiba-tiba dia begitu mudahnya mengakses
tempat-tempat maksiat.


Nah, Sahabat. Selalulah kita nikmati proses. Seperti saat seorang ibu
membuat kue lebaran, ternyata kue lebaran yang hasilnya begitu enak itu
telah melewati proses yang begitu panjang dan lama. Mulai dari mencari
bahan-bahannya, memilah-milahnya, menyediakan peralatan yang pas, hingga
memadukannya dengan takaran yang tepat, dan sampai menungguinya di
open. Dan lihatlah ketika sudah jadi kue, baru dihidangkan beberapa
menit saja, sudah habis. Apalagi biasanya tidak dimakan sendirian oleh
yang membuatnya. Bayangkan kalau orang membuat kue tadi tidak menikmati
proses membuatnya, dia akan rugi karena dapat capeknya saja, karena
hasil proses membuat kuenya pun habis dengan seketika oleh orang lain.
Artinya, ternyata yang kita nikmati itu bukan sekedar hasil, tapi
proses.


Begitu pula ketika ibu-ibu punya anak, lihatlah prosesnya. Hamilnya
sembilan bulan, sungguh begitu berat, tidur susah, berbaring sulit,
berdiri berat, jalan juga limbung, masya ALLOH. Kemudian saat
melahirkannya pun berat dan sakitnya juga setengah mati. Padahal setelah
si anak lahir belum tentu balas budi. Sudah perjuangan sekuat tenaga
melahirkan, sewaktu kecil ngencingin, ngeberakin, sekolah ditungguin,
cengengnya luar biasa, di SD tidak mau belajar (bahkan yang belajar,
yang mengerjakan PR justru malah ibunya) dan si anak malah jajan saja,
saat masuk SMP mulai kumincir, masuk SMU mulai coba-coba jatuh cinta.
Bayangkanlah kalau semua proses mendidik dan mengurus anak itu tidak
pakai keikhlasan, maka akan sangat tidak sebanding antara balas budi
anak dengan pengorbanan ibu bapaknya. Bayangkan pula kalau menunggu
anaknya berhasil, sedangkan prosesnya sudah capek setengah mati seperti
itu, tiba-tiba anak meninggal, naudzhubillah, apa yang kita dapatkan?


Oleh sebab itu, bagi para ibu, nikmatilah proses hamil sebagai ladang
amal. Nikmatilah proses mengurus anak, pusingnya, ngadat-nya, dan
rewelnya anak sebagai ladang amal. Nikmatilah proses mendidik anak,
menyekolahkan anak, dengan penuh jerih payah dan tetesan keringat
sebagai ladang amal. Jangan pikirkan apakah anak mau balas budi atau
tidak, sebab kalau kita ikhlas menjalani proses ini, insya ALLOH tidak
akan pernah rugi. Karena memang rizki kita bukan apa yang kita dapatkan,
tapi apa yang dengan ikhlas dapat kita lakukan.

Nikmati Proses